MEMASANG MULSA
1. Menentukan Jenis mulsa
Penggunaan teknologi dengan
memakai mulsa pada budidaya tanaman
karena selain memberikan kemudahan dalam pemeliharaan tanaman, mulsa juga sangat membantu dalam
menjaga lingkungan tumbuh yang ada disekitar tanaman tersebut. Apabila
lingkungan tumbuh yang ada di sekitar tanaman terjaga dengan baik, maka
akan memberikan pengaruh positif dalam pertumbuhan dan pekembangan tanaman itu
sendiri. Lingkungan tumbuh yang sangat
membantu tersebut diantaranya adalah dapat menjaga kestabilan tanah dan
ketersediaan air tanah. Mengingat
kegunaan dari mulsa tersebut, maka alangkah baiknya pelaksanaan budidaya
tanaman menggunakan mulsa untuk membantu keberhasilan dalam memproduksi suatu
komoditas.
Tujuan memasang mulsa dalam
melakukan budidaya tanaman terutama adalah untuk menekan laju pertumbuhan
gulma, karena gulma tersebut akan menjadi pesaing tanaman yang
dibudidayakan. Terjadi kompetisi dalam pengambilan unsur hara, baik
itu unsur hara makro maupun mikro,
apabila keadaan ini dibiarkan maka pertumbuhan tanaman akan mengalami
keterlambatan karena kurangnya suplai makanan yang diperoleh dari tanah akibat
dari persaingan tersebut. Oleh karena
itu memasang mulsa perlu dilakukan untuk menekan laju dari pertumbuhan gulma
tersebut.
Berdasarkan sumber bahan dan cara pembuatannya, bahan
mulsa pada dasarnya dapat dikelompokan dalam tiga kelompok, yaitu mulsa
organik, mulsa an-organik, dan mulsa kimia sintetis.
a.
Mulsa yang berasal
dari bahan organik (sisa-sisa tanaman) meliputi semua bahan sisa pertanian yang
secara ekonomis tidak bermanfaat misalnya jerami padi, ilalang, batang jagung,
batang kedelai, daun pisang, daun tebu, alang-alang.
b.
Mulsa
an-organik meliputi semua bahan batuan dalam berbagai bentuk dan
ukuran seperti batu kerikil, batu koral, pasir kasar, batu bata, dan batu
gravel. Untuk tanaman semusim, bahan
mulsa ini jarang digunakan. Bahan mulsa
ini lebih sering digunakan untuk tanaman hias dalam pot.
c.
Mulsa plastik hitam
perak (PHP).
Mulsa plastik hitam perak (PHP), mulsa ini merasal dari
bahan plastik dan bahan kimia
lainnya. Bahan-bahan plastik berbentuk
lembaran dengan daya tembus sinar matahari yang beragam. Bahan plastik yang saat ini sering digunakan
sebagai bahan mulsa adalah plastik transparan, plastik hitam, dan plastik perak hitam. Penggunaan bahan mulsa tersebut tergantung
efek pemulsaan yang diharapkan.
Sementara bahan kimia yang dapat dikategorikan sebagai mulsa berbentuk
emulsi dan diaplikasikan sebagai soil conditioner. Bahan kimia tersebut diantaranya bitumen,
krilium, aspal, glioksal, anionic, dan lateks cair.
Pada
mulsa yang biasa digunakan adalah mulsa PHP yang memiliki warma permukaan bagian luar berwarna perak dan bagian dalam
berwarna hitam. Sebelum
digunakan mulsa PHP ini harus dibelah terlebih dahulu sehingga menjadi mulsa
PHP berbentuk lembaran yang memiliki dua lapis yang berbeda yaitu lapisan
sebelah berwarna hitam dan sebelahnya lagi berwarna perak.
2.
Kesesuaian bahan
mulsa
Pertimbangan-pertimbangan yang perlu diperhatikan dalam
menentukan bahan mulsa yang akan digunakan antara lain adalah: tujuan utama
dalam penggunaan mulsa, jenis tanaman dan kemudahan untuk mendapatkannya. Tidak semua jenis mulsa cocok digunakan untuk
setiap jenis tanaman tergantung karakteristik tanamannya. Tanaman yang memiliki
jarak tanam yang rapat lebih tepat menggunakan mulsa bahan organik daripada
mulsa PHP, sebaliknya tanaman yang memiliki jarak tanam yang relatif lebar
lebih cocok bila menggunakan mulsa PHP.
Selain itu perlu juga dipertimbangkan kemudahan untuk mendapatkan dan
efisiensinya dalam penggunaan mulsa tersebut.
Manfaat penggunaan
mulsa pada budidaya tanaman adalah untuk:
a.
Merangsang
perkembangan akar
Dengan penggunaan mulsa
maka suasana didalam perakaran gelap dan hangat, akar tanaman akan mudah
berkembang dalam suasana tersebut.
b.
Mempertahankan
struktur, suhu dan kelembaban tanah
Pemakaian mulsa mampu mempertahankan
struktur tanah tetap gembur, suhu dalam tanah menjadi stabil karena penyinaran
matahari tidak langsung mengenai permukaan tanah bedengan. Kelembaban tanah tetap terjaga, karena dengan
adanya mulsa penguapan dapat berkurang.
c.
Mencegah erosi
tanah
Pengairan yang
berlebihan maupun air hujan dapat menyebabkan erosi pada permukaan
bedengan. Dengan penggunaan mulsa erosi
dapat terkendali.
d.
Menekan pertumbuhan
gulma
Penggunaan mulsa akan
menekan pertumbuhan gulma, sehingga biaya penyiangan dapat berkurang.
e.
Mengurangi
penguapan air dan pupuk
Dengan penggunaan mulsa
dapat menekan penguapan, baik penguapan air maupun penguapan pupuk terutama
pupuk N.
f.
Meningkatkan
aktifitas fotosintesis
Terutama mulsa PHP yang dapat meningkatkan aktifitas
fotosintesis yang disebabkan oleh pantulan cahaya dari mulsa kedaun.
g.
Menekan
perkembangan hama penyakit
Mulsa yang dapat menekan perkembangan hama dan penyakit
tanaman terutama adalah mulsa PHP.
Pantulan cahaya dari warna perak pada mulsa PHP akan mengusir hama
(Thrip dan Aphids) serta ulat daun, dan dengan pantulan cahaya maka kelembaban
berkurang sehingga perkembangan penyakit dapat ditekan.
h.
Meningkatkan
kualitas buah
Bagi tanaman buah yang buahnya
menempel pada tanah, mulsa dapat
berperan juga sebagai alas buah. Dengan
adanya alas buah tidak kotor kena tanah dan warna buah bisa seragam sehingga
kualitas buah terjamin.
Keunggulan dan kelemahan mulsa
1)
Mulsa Jerami
Mulsa
jerami merupakan salah satu mulsa yang dapat digunakan untuk semua tanaman,
karena mulsa yang berasal dari jerami sifatnya mudah lapuk, mulsa jerami banyak
diaplikasikan pada tanah-tanah yang telah dieksploitasi berat. Dengan pemberian mulsa jerami pada tanah
tersebut diharapkan agar tingkat kesuburan tanah pada jangka waktu tertentu
dapat dikembalikan melalui pelapukan bahan mulsa jerami. Mulsa jerami sesuai digunakan untuk
tanaman-tanaman semusim atau non-semusim yang tidak terlalu tinggi dan memiliki
struktur tajuk berdaun lebat dengan system perakaran dangkal. Tanaman-tanaman yang sudah biasa menggunakan
mulsa dari jerami antara lain, kentang, kedelai, bawang putih dataran rendah,
semangka, dan melon. Mulsa bahan organik memiliki sifat yang mudah lapuk,
sehingga dapat menambah bahan organik
tanah dan dapat meningkatkan kesuburan tanah. Kelemahan mulsa bahan organik mudah lapuk sehingga bila mulsa yang
dipasang sudah mulai lapuk perlu adanya penambahan mulsa lagi.
2)
Mulsa Plastik
Mulsa
plastik cocok digunakan untuk pembudidayaan tanaman yang struktur perakarannya
dangkal dengan tajuk tanaman berdaun tidak terlalu lebar dan tinggi tanaman di
atas 0,5 meter. Mulsa plastik putih dan
perak cocok digunakan untuk tanaman dataran tinggi yang akan dibudidayakan pada
dataran medium atau dataran rendah, sebab jenis mulsa tersebut memiliki efek
menurunkan suhu tanah. Contohnya budidaya tanaman bawang putih di dataran
rendah.
Sedangkan
mulsa plastik transparan dan hitam dapat
digunakan untuk budidaya tanaman dataran rendah yang ingin dibudidayakan di
dataran tinggi. Sebab efek mulsa ini
bisa menaikan suhu tanah. Contohnya
budidaya tanaman bawang merah di dataran tinggi.
a) Mulsa
plastik putih (MPP)
Berdasarkan
penelitian bahwa, mulsa putih (MPP) memantulkan cahaya sekitar 45 %, dengan
demikian, cahaya matahari yang dipantulkan dan diserap secara langsung atau
tidak langsung akan berinterakasi dengan tanah sekitar 55%. Sedangkan pada tanah yang tidak diberi mulsa,
cahaya matahari yang dipantulkan hanya 12% atau ada sekitar 88% cahaya matahari yang diteruskan atau
diserap. Dengan demikian, MPP cocok diterapkan
pada tanaman-tanaman dataran dataran tinggi yang ingin dibudidayakan di dataran
rendah seperti bawang putih dan petsai.
MPP selain menurunkan suhu tanah, mulsa ini juga dapat menambah jumlah
cahaya matahari yang diterima oleh tajuk tanaman, karena cukup besarnya cahaya
matahari yang dipantulkan, hal ini sangat membantu dalam melakukan proses
fotosintesis.
b) Mulsa
plastik transparan
Mulsa Plastik Hitam (MPH) Mulsa PHP tidak mudah lapuk, dapat mengendalikan serangan hama tanaman. Kelemahan
mulsa PHP, setelah selesai tanam perlu dibersihkan sampai
bersih,
karena akan mengganggu pengolahan tanah berikutnya.
c) Mulsa Plastik Hitam perak (MPHP)
Mulsa Plastik Hitam Perak (MPHP) Penggunaan mulsa
merupakan salah satu penerapan teknologi budidaya pertanian. Dengan penggunaan
mulsa ini dapat mengurangi kompetisi
tanaman terhadap gulma, meningkatkan kelembaban tanah, menyeimbangkan
kadar keasaman (pH) tanah, mengurangi fluktuasi suhu tanah, mengurangi
evaporasi tanah, sehingga kelembaban tanah dapat dipertahankan, mengurangi
kerusakan (erosi) tanah karena air hujan, mengurangi pencucian hara terutama
Nitrogen dan meningkatkan aktivitas mikrobiologi tanah, mengurangi serangan
hama pengisap (Thrips, tungau dan kutu daun) dan penyakit tular tanah (rebah
kecambah dan akar bengkak).
Dengan menyesuaikan kondisi pemakaian untuk pertanian di Indonesia, plastik
mulsa diproduksi dengan teknologi dari luar negeri yang memenuhi ekspor dengan
kelebihan sebagai berikut :
1.
Bahan
plastik yang berkualitas tinggi sehingga memberikan daya tahan yang maksimal
terutama di daerah ’fixing point’ (daerah mudah sobek) maka apabila terjadi
robekan tidak mudah menjalar.
2.
Warna
perak yang merata dan terang memberikan pantulan sinar dan energi panas untuk
mengusir hama yang mengganggu tanaman.
3.
Warna
hitam pekat menjamin kelembaban tanah karena mengurangi penguapan air terutama
pada musim kemarau, menjaga stabilitas suhu tanah dan menekan pertumbuhan gulma
atau tanaman pesaing lainnya serta memperbaiki pertumbuhan akar tanaman.
4.
Pemakaian
bahan tambahan yang berkualitas tinggi dalam pembuatan pastik mulsa menjamin
kekuatan dan elastisitas untuk pemakaian
jangka panjang.
Di lapangan, petani dominan memakai mulsa plastik hitam perak dikarenakan
lebih efektif (bahan mudah didapat di toko pertanian) dan efisien
(penggunaannya) serta ekonomis dalam menghemat biaya pembersihan gulma.
3.
Menghitung Kebutuhan mulsa
Lebar mulsa plastik PHP yang
digunakan bisa bermacam-macam atau tergantung lebar bedengan. Namun, lebar
mulsa plastik yang banyak beredar di pasaran sekitar 120 cm. Kebutuhan mulsa plastik untuk penanaman cabai
seluas 1 Ha, dengan jarak tanam 75 x 50 cm atau populasi 16.000 – 17.000
tanaman adalah sekitar 12 rol.
4.
Cara memasang mulsa
Sebaiknya, mulsa plastik
dipasang pada siang hari, sewaktu matahari sedang terik-teriknya, sehingga
mulsa plastik bisa ditarik dan bedengan bisa tertutup dengan baik. Pemasangan mulsa dimulai dari salah satu
ujungnya dengan cara dijepit menggunakan pasak dari bambu yang dilengkungkan
(membentuk huruf U). Cara pemasangan
mulsa plastik adalah sebagai berikut :
a.
Tarik kedua
ujung plastik mulsa searah dengan panjang bedengan kemudian dikuatkan (diklem)
dengan menggunakan bilah bambu berbentuk U sepanjang 30 cm pada ke dua ujung
bedengan. Usahakan minimal setengah dari
tinggi bedengan dapat tertutup oleh
mulsa.
b.
Kemudian tarik lembaran plastik mulsa ke arah sisi
kanan dari lebar bedengan dan kuatkan (diklem) dengan menggunakan bilah bambu
berbentuk U pada setiap jarak 40 – 50 cm.
Dengan pemakaian pasak ini diharapkan mulsa akan menutup bedengan dengan
rapi dan kuat serta tahan dari tiupan angin yang kencang.
c.
Untuk pembuatan lubang tanam bisa dilakukan 3 hari
menjelang bibit dipindahtanamkan. Ada
beberapa alternatif cara yang bisa dilakukan untuk membuat lubang tanam, yaitu
dengan menggunakan pisau cutter, kaleng bekas susu atau pelat pemanas. Lubang tanam dapat berbentuk bulat, segi
empat atau segitiga.
Daftar Pustaka
Anonym, Budidaya dan Bisnis Cabai, Jakarta, Agromedia
Pustaka, 2008.
Prajnanta, Final, Mengatasi permasalahan bertanam cabai,
Jakarta, Penebar Swadaya, 2000.
Pusat Standarisasi dan Akreditasi, Standar Nasional
Indonesia Sektor Pertanian, Jakarta, Departemen Pertanian, 2001.
AYO SUKSESKAN !
BalasHapusASIAN GAMES 2018 Sudah Di Depan Mata <3
Bersiap-Siap dan Sambutlah Kemeriahan Pesta Olahraga Asia ini Bersama Kami, AGENS128 !!!
Dan Pastinya Dapatkan Berbagai Bonus KEMERDEKAAN & ASIANGAMES dari AGENS128
(BBM): AGENS128
WhatsApp : 087789221725
LINE: AGENS1288
KEEP THE DREAM ALIVE !!!