MENGENDALIKAN PENYAKIT PADA PEMBIBITAN
Salah satu aspek pemeliharaan pembibitan yang penting adalah upaya menjaga agar bibit tidak terkena gangguan hama dan penyakit. Apabila kemudian bibit terserang hama/penyakit maka diperlukan pengendalian agar hama/penyakit tersebut tidak merugikan baik untuk pertumbuhan bibit ataupun kerugian secara ekonomi. Hama adalah semua binatang (serangga dan satwa), yang dapat menimbulkan karusakan pada tumbuhan. Ada beberapa jenis hama dan penyakit yang umum menyerang pembibitan. Jenis hama diantaranya adalah belalang, ulat dan cacing. Organisme penyebab penyakit adalah patogen (virus, bakteri, jamur dan nematoda) yang mengakibatkan terganggunya proses fisiologis tanaman. Penyakit yang merusak pembibitan umumnya disebabkan oleh jamur. Jenis-jenis hama/penyakit yang menyerang pembibitan tanaman diantaranya:
a) Hama cacing putih (Accaris sp)
Hama ini menyerang bibit muda umur < 2 minggu, dengan gejala serangan berupa seluruh bagian bibit menjadi layu tapi tidak diikuti oleh perubahan warna daun yang menjadi coklat seperti halnya daun yang mati akibat kekeringan. Bagian yang diserang mulai dari akar kemudian masuk ke dalam batang tanaman.
b) Hama belalang dan ulat plucia
Gejala serangan berupa daun menjadi rusak dan berlubang-lubang. Pengendaliannya dengan cara penyemprotan berkala 2 minggu sekali dengan pestisida Basudin 60 EC (konsentrasi 0,2 %).
c) Penyakit lodoh (Dumping off)
Biasanya menyerang bibit yang masih muda ( < 2 mingu setelah sapih), dengan gejala serangan berupa pembusukan pada hipokotil, selanjutnya bibit roboh seperti tersiram air panas. Pengendaliannya dengan fungisida Dithane M45 80 WP, konsentrasi 0,2 %. Ada beberapa cara pengendalian hama dan penyakit tanaman yang dapat dilakukan pada pembibitan, yaitu :
a) Cara fisik
Dilakukan dengan cara membersihkan lingkungan di sekitar pembibitan, memusnahkan gulma sebagai tempat berlindung hama atau sebagai inang penyakit dengan cara dibakar.
b) Cara mekanis
Yaitu dengan mengamati bibit, jika ada hama diambil kemudian dibunuh, jika ada bibit yang terkena penyakit diambil kemudian dibakar agar tidak menulari bibit yang lain.
c) Cara kimia
Bahan kimia yang paling banyak digunakan adalah pestisida. Pestisida sering menjadi pilihan utama dalam upaya pengendalian hama dan penyakit karena memiliki beberapa keuntungan antara lain :
- Dapat memberikan hasil yang cepat
- Aplikasi di lapangan relatif mudah
- Dapat diaplikasikan setiap waktu dan tempat
- Dapat diperoleh dengan mudah
Penggunaan pestisida dalam konsepsi pengendalian hama terpadu merupakan alternatif terakhir apabila cara pengendalian lain tidak berhasil. Penggunaan pestisida baru dilakukan apabila tingkat kerusakan tanaman atau kepadatan populasi organisme pengganggu melampaui batas toleransi ambang ekonomi. Menurut fungsinya ada beberapa jenis pestisida, yaitu :
- Insektisida, untuk mengendalikan hama serangga
- Akarisida, untuk mengendalikan tungau dan kutu
- Fungsida, untuk mengendalikan jamur/cendawan
- Nematisida, untuk mengendalikan cacing/nematoda
- Bakterisida, untuk mengendalikan bakteri
- Rodentisida, untuk mengendalikan binatang pengerat
- Helisida, untuk mengendalikan siput/bekicot
- Herbisida, untuk mengendalikan gulma.
Agar pemakaian pestisida dapat efektif, maka pestisida yang digunakan harus sesuai dengan jenis hama/penyakit yang akan dikendalikan dengan melihat label kemasannya. Adapun bentuk pestisida terdiri dari :
Bentuk padat, macamnya adalah
- Tepung hembus (Dust = D)
- Butiran (Granule = G)
Kedua jenis tersebut digunakan dengan cara ditaburkan atau dicampurkan dalam media tumbuh/tanah
Bentuk cair, macamnya adalah :
- Tepung yang dibasahkan (Wettable Powder = WP)
- Tepung yang dapat dilarutkan (Saluble Powder = SP)
- Cairan (Emulsifiable Consentrates – EC atau E)
Penggunaannya dengan cara dilarutkan dalam air dengan dosis dan konsentrasi tertentu.
Bentuk gas (Flowable =F)
Dalam pembibitan tanaman, bentuk pestisida yang digunakan umumnya bentuk padat dan cair. Untuk pestisida cair, yang digunakan dengan cara dilarutkan dalam air, maka perlu diketahui dosis dan pestisida. Biasanya dinyatakan dalam kg bahan aktif tiap hektar (kg/Ha) dan perse konsentrasi (%) dari bahan aktif dalam larutan. Pestisida merupakan bahan kimia yang beberapa diantaranya beracun bagi manusia. Untuk itu perlu penanganan secara hati-hati agar tidak membahayakan, terutama pada saat penyemprotan. Penyemprotan dengan pestisida sebaiknya dilakukan pada waktu pagi hari, jam 7. 00 – 10.30 WIB atau sore hari, jam 15.00 – 17.00 WIB. Untuk melindungi diri, gunakan masker, sarung tangan dan sepatu boot. Penyemprotan dilakukan jangan berlawanan dengan arah angin, untuk menghindari terhisapnya uap pestisida. Membuat larutan pestisida (fungisida/ insektisida/ bakterisida/ insektisida):
- Pestisida (fungisida/bakterisida/insektisida diukur sesuai dengan ketentuan 7 gram (7 cc)
- Konsentrasi larutan pestisida dibuat dengan ketentuan 7 gram/14 ltr atau 7 cc/14 ltr
- Larutan pestisida tercampur merata
- Larutan pestisida dimasukkan ke dalam knapsack sprayer tidak berceceran
Penyemprotan pestisida dalam pengendalian hama dan penyakit pada pembibitan dilakukan berdasarkan ketentuan sebagai berikut :
- Larutan pestisida yang keluar dari nozzle dalam bentuk kabut (mist)
- Arah semprotan sesuai dengan arah angin
- Penyemrotan diarahkan ke seluruh bagian bibit
- Penyemprotan pestisida tidak menyebabkan bibit layu
- Gejala penyakit pada bibit yang disemprot tidak berkembang.
- Hama yang disemprot mati
Komentar
Posting Komentar